HARIMAU ANDROMEDHA DAN KUPU KUPU BAJA – part 2

Tungguu… Hentikan..

Suara itu berasal dari dalam gubug besar milik Tormond. Sosok tersebut adalah Mily anak semata wayang Tormond. Tunggu, Ayah… tolong hentikan … Jack tak mengerti apa-apa. Ampunilah dia Ayah! Sungguh, hanya aku yang mengenalnya baik dibanding semua yang berada di desa Ashildr ini. Katakanlah siapa dia?! Sesaat Mily akan bercerita tentang Jack, dengan tergopoh gopoh bersusah payah untuk berdiri, si Jack mencegah Mily untuk tak bercerita tentangnya. Jack berkata dengan sangat berhati hati kali ini. Tuan Tormond maafkan aku, berkenanlah untuk memaafkan aku! Aku tak tau kalau Engkau adalah Ayah dari lady Mily, sungguh hati ini dirudung rasa yang tak sempurna karena ketidaknyamanan yang kubuat ini. Aku mengaku kalah. Aku akan pergi kali ini namun tolong janji pada satu hal, tolong jaga lady Mily dengan baik.

Jack yang tak diketahui darimana rimbanya, membuat Tormond sangat geram karena setelah mengajaknya bertarung ia mengatakan untuk  menjaga baik – baik putrinya yang semata wayang tersebut. Namun dia menyadari adanya kekurangan dalam menjaga putrinya. Baik, aku akan turuti permintaanmu. Sekarang ceritakanlah mengapa kau datang ke desa ini dan mengapa kau menantang aku bertarung? Yang mulia tuan Tormond dengarkanlah aku baik – baik. Sebelum aku kesini aku adalah seorang Pangeran dari negeri Andromedha. Disana sebelumnya terjadi kekacauan. Banyak jatuh korban karena perebutan kekuasaan. Aku adalah keturunan yang sah dari Jack Durenburry IV Raja yang sangat baik, adil dan makmur sebelum pada akhirnya datanglah sebuah koloni besar yang memberontak dipimpin oleh Willem adik tiri nya karena ambisi kekuasaan menuduh Jack Durenburry IV memperkosa ibu tirinya Lady Kerlin. Aku berumur 14 tahun kala itu.

Saat terjadi kekacauan, aku diselamatkan oleh hewan peliharaan Ayahku, seekor Harimau Adromedha. Harimau terkuat di jagat Adromedha. Aku dibawanya pergi sampai akhirnya tiba ke pulau terjauh dari desa ini, disanalah aku beranjak dewasa kemudian mengenal putrimu dan peliharaannya seekor Kupu-Kupu Baja. Lady Mily merupakan seorang wanita yang terhormat, baik hati dan aku sangat mencintainya seperti Harimau Adromedha dan Kupu-Kupu Baja milikku dan miliknya. Suatu ketika aku mendengar informasi bahwa pasukan Adromedha  akan turun dalam jumlah yang sangat besar sekitar 2.000 pasukan untuk mencari keberadaanku setelahnya kemudian pasti ingin membunuhku. Apapun juga akan Willem lakukan, pasti banyak juga menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuhku. Mungkin kepalaku dinilai seharga dua batang emas. Sangatlah murah. Aku sengaja datang ke desa Ashildr tempat lahirnya Lady Mily untuk mencari orang terkuat supaya dapat menjaga Lady Mily dengan baik. Dan sekarang aku dihadapan orang terkuat tersebut. Tunggu,, apa yang akan kau ingin lakukan, Jack? Apa kau ingin meninggalkanku disini? Apa kau akan meninggalkan juga bayi yang ada dikandunganku ini? Semua orang tercengang mendengar Lady Mily saat memotong pembicaraan mereka berdua.

 

Bersambung dulu  😀

Advertisements

HARIMAU ANDROMEDHA DAN KUPU KUPU BAJA – part 1

Preamble..

Kisah ini dilatarbelakangi kengerian pelayaran Jack dan Mily yang membawa sesaji dengan menggunakan sekoci kemudian terombang – ambing di lautan lepas tanpa arah haluan kompas.

DIY-Berlian-Lukisan-Needlework-Penuh-Bor-Persegi-Mosaik-Berlian-bordir-Kucing-dan-kupu-kupu-Pola-Dekorasi

Ilustrasi – Gambar ambil dari Google

400 tahun yang silam dari tahun 925 SM kehidupan di desa Ashildr sangatlah damai. Mereka, penduduknya mengatakan tak ada panas yang kentara, tak ada badai yang ganas menerjang, udaranya sangatlah sejuk, ranting pohon dan suara air di sungai setiap pagi bersinggungan membentuk nada-nada azimat ketentraman. Tormond seorang punggawa desa Ashildr pernah mengatakan dalam pidatonya. Di dalam sebuah kesempatan, dia berdiri diatas tumpukan batu-batu besar mencoba menarik perhatian penduduk desa Ashildr. “Hai, kaumku akankah kalian lihat seberapa hebatnya orang di depanku pasti akan tunduk juga.” Dia berbicara layaknya petir yang menyambar keras, hebat, tak ada satu pun cacat di dalam dirinya begitupun juga fisiknya yang besar dengan jenggot congkaknya. Orang – orang sangat mengagguminya karena kemampuannya berburu, banyak sekali hewan-hewan buas mati ditangannya, dia pun selalu menggunakan jubah kebesaran yang dia buat dari kulit seekor Singa yang pernah Ia robek-robek hatinya.

Ya, selama ini belum ada orang yang berani menantangya bertarung, sampai detik dimana seorang Remaja bernama Jack, berselarah ucap kotor di depan sebuah Altar tempat pidato miliknya. “Cih, bangsat, Kau hanya bermimpi saja!” Aku Jack, berdiri dihadapmu sekarang!  Jack masih muda berumur 27 tahun, bertubuh sedang, berambut pendek yang berwarna hitam berbeda dengan penduduk lainnya yang berambut pirang namun punya perawakan elok sehingga tak sedikit juga wanita di desa tersebut terlihat gontai jika sedang di dekat Jack.

Jarak Jack saat melontarkan kata berkisar 17 meter dari altar. Kemudian orang – orang yang berada disekelilingnya menghindar darinya supaya Tormond tidak salah sasaran. Ketakutan itu sangat nyata bagi mereka ketika melihat mata Tormond memerah. Jack dengan sigap melemparkan tombak yang sengaja tidak dikenakan Tormond dan mengenai sebidang jerami persis di samping kiri belakangnya Tormond. Sangat gerah kali ini si Tormond, Ia pun segera mendatangi Jack dengan dada yang berdebar membawa dentuman – dentuman perang disekujur urat nadinya. Plaakk, pukulan pertama Tormond mengenai rongga mulut Jack dan berdarahlah hidung dan mulutnya. Hei, bocah! Kau berasal darimana?! Kau tak mengenal siapa Aku?! Hah!!

I’m Slowly Learning That I Don’t Have To React To Everything That Bothers Me — Thought Catalog

This is quite simply learning of life..

Matheus FerreroI’m slowly learning that I don’t have to hurt those who hurt me. I’m slowly learning that maybe the ultimate sign of maturity is walking away instead of getting even. I’m slowly learning that the energy it takes to react to every bad thing that happens to you drains you and stops you from…

via I’m Slowly Learning That I Don’t Have To React To Everything That Bothers Me — Thought Catalog

Life Blur.

We are living, thinking, and acting at the end of a brilliant sixhundred year-long Sensate day. The oblique rays of the sun still illumine the glory of the passing epoch. But the light is fading, and in the deepening shadows it becomes more and more difficult to see clearly and to orient ourselves safely in the confusions of the twilight. P.A. Sorokin

Seorang pembaca hidup ribuan tahun dalam hidupnya, sedang yang tidak hanya merasakan hidup sekali. Bersama sama kita ketahui bagaimana perjuangan Ir. Soekarno berusaha untuk mengentaskan buta huruf masyarakat Indonesia. Halal haramnya sebuah kata, setiap orang mampu mempunyai pengalaman yang berbeda. Yang asik, unik, suram, cinta cintaan dsby. Dan semuanya patut dihormati.

Namun tidaklah mudah nandur teori western (yang mereka sendiri almost blur in having cultures) di sebuah negara yang kaya perbedaan ini. But,sometimes we playin’ the game. Ya, jujurlah. Kita sebagai warga nasional tentu juga harus menginternasional, sebaliknya. Lanjutnya, parahnya kita kebablasen. Kalau bicara our culture “dong dong an do it” (baca saja: kadang ya kadang tidak) termasuk aku.
Akhir kalam, dengan motto Ir. Soekarno “think-rethink” marilah sejenak re-think again dengan segala persoalan di depan sungai sebab semua kembali pada djiwa djiwa tulus yang kan bersemi di hari nanti.

Terlatih dan Melatih Pesan

Kapan ya kita menjadi serba tau?Yang hanya manusia biasa..

Pertanyaan ini mencoba untuk menggali suasana tenteram dihati. Orang boleh saja mengklaim bahwa dirinya yang paling tau segala hal. Paling tau pokoknya. Banyak sekarang orang seperti itu, sampai luber rasa-rasanya termasuk aku ini juga.

Ah, nevermind!

Sudah lama tidak menulis aku ingin sedikit curhat dan menulis buat self reminder. Namun sejauh itu semoga bermanfaat juga bagi pembaca.
Continue reading

Renyah Rebana

Melentingkan suara indah tak sembarang punya..
Nada yang begitu berirama
berpacu dalam tajwid cinta

Senandung Kallam Ilahi
Goncah dalam pekat malam itu
Kidung tadarusmu hanyut lebur dalam hangatnya suasana
Kaupun keluarkan lembutnya citra
Aroma suara ini
Terdengar enak ditelinga
Sungguh hati ini terkesima
Nadamu bagaikan sekompi renyah rebana