Bintang Tak Berjatuhan Yang Jatuh Sangkaanku Padamu (Part.2)

Akhirnya Affanpun terpojok dan hampir tak bisa mengeluarkan jurus jitunya. Karena kesalahan yang kau lakukan ini kau nanti sore harus mengikuti kursus bahasa Jepang seperti Sarah dan Nayla, “pinta Bibi Yuli. Kenapa harus Jepang? Bukankah sudah ada Sarah dan Nayla, bagaimana kalau dengan bahasa Prancis?, “Affan merengek. Sebenarnya Affan tidak pernah suka dengan pelajaran bahasa. Sama sekali tidak apalagi Bahasa Jepang. Kau harus nurut! Kau tau kenapa aku pilihkan Bahasa Jepang? Ayahnya Sarah dan Nayla itu adalah seorang keturunan bangsawan dari kerajaan Jepang. Maka itu, mereka harus bisa berbahasa Jepang jika Ayahnya ke Indonesia mereka bisa bercakap – cakap dengan lancar. Huh, “ itukan mereka saja yang wajib, aku tak usah.” Sekarang kalian mandi kemudian setelah makan persiapkan apa yang dibutuhkan untuk kursus nanti. Cepat! Continue reading

Advertisements

Bintang Tak Berjatuhan Yang Jatuh Sangkaanku Padamu (Part.1)

Akhirnya suara  kumbang berhenti. Luar biasa malam ini, terlalu sepi untuk kehidupan yang sepi saat – saat  ini. Tampaknya langit tak segan menampilkan performanya.  Affan segera memejamkan mata. Rona langit hitam bertabur bintang diselimuti cahaya bulan. Sesekali Affan menengok takjub. Benar – benar indah nan elok ciptaanNya. Tak lama kemudian Affan tertidur. Berselimutkan tanah dan rumput.

Bibi Yuli terbangun dari tidurnya. Mendapati jendela yang terbuka menyapa tubuhnya. Sial, Affan keluar dari kamarnya lagi. Bibi Yuli yang sangat keras, culas dan disiplin, dengan tergesa gesa mencari  Affan. Setelah mencari di halaman rumah tidak ada. Bibi Yuli mencoba ke bukit kecil di belakang rumah. Ah anak yang bandel, kalau ketemu awas dia! Ini sangat tidak bisa diterima, aku harus berjalan mendaki. Selalu saja membuat onar. Akan kuhukum dia !

Continue reading

Jalan Padi

Padi di pinggir jalanan

Terpinggirkan tak berdaya

Goncah bergoyang coba menarik perhatian

Begitu banyak orang lalu lalang

Lewat, tak juga sapa sini sana

Jalan tak disangka sangka

Orang bilang jalan hidup begitu berlinang air mata

Menyempitkan pandangan

Menyesakkan jiwa

Hal baru ditemukan

Kemudian dirapih rapihkannya

Hal lama dilewatkan

Rupanya hati pun kian senang

Namun sayang semua hanya tipu daya dunia

Esok elegi pagi hari

Kasian padi yang berjalan sendiri

Mencari inner light membungkus misery

Kelopak mata

Sore ini terlalu merdu

Tak kurasakan hingar bingar

Terompahnya suara jalanan

Dalam bus ini kunikmati

Setiap hembusan nada

Setiap gerak gerik, symphony

Setiap alunan mata jiwa

Tak ubahnya seorang pertapa

Mengheningkan jalma

Yang terkadang sesak

Mencinta berlebihan

Dan dicinta tak berlebih

Kelopak mata jadi saksi cerita

Dimana setiap petaka

Ada kesempatan bergembira

Perhatikan kelopak mata

Hiasi dengan rindangnya senyuman

 

Katakanlah Kasih

Katakanlah kasih..

ini bukanlah ketinggian bukit yang menjulang tinggi

bukan sembarang tempat sehingga terlarang

bukan juga keras bebatuan alam 

Hidup kita alami  sedemikian rupa

Nektar alam menyajikan keindahan berjuta warna

Hirup dan hisaplah nektar itu !

Aroma sesal akan enyah

dari rona merah kehidupan mewah

Katakanlah kasih…

katakanlah dengan insan

dengan suara madumu

sehingga mampu mengoyak jiwaku 

menyongsong masa kita tua

Dan hidup bahagia bersama…….