Tembok Imaji

Jejak Tembok jadi saksi

Antara cinta dan benci

Memberi harap namun tak pasti

Ditengah lautan sekoci pun terkunci,

Hamparan besar jadi kecil

Tergulung layar yang terombang ambing

Mata pun tersedak..

Melihat pulau nun jauh sekali

Singgahlah kali ini

Sekoci yang terbuang dalam sesaji

Advertisements

Renyah Rebana

Melentingkan suara indah tak sembarang punya..
Nada yang begitu berirama
berpacu dalam tajwid cinta

Senandung Kallam Ilahi
Goncah dalam pekat malam itu
Kidung tadarusmu hanyut lebur dalam hangatnya suasana
Kaupun keluarkan lembutnya citra
Aroma suara ini
Terdengar enak ditelinga
Sungguh hati ini terkesima
Nadamu bagaikan sekompi renyah rebana

Hai, Jumpa lagi

Gelagat senja ini kau tak seperti kala itu

Memabukkan indera mata, mencekeram cakrawala

Saat dihadapku kau bersungging senyuman

dalam memandangmu setengah tubuh inipun rasanya tak sanggup

Hei, kau gadis bermata coklat kehitaman

berurai rambut elok namun serampangan

setelah tiga bulan purnama penuh kau datang

membawa berita besar

Akupun tersenyum mendengarnya

Hai, jumpa lagi…

Jalan Padi

Padi di pinggir jalanan

Terpinggirkan tak berdaya

Goncah bergoyang coba menarik perhatian

Begitu banyak orang lalu lalang

Lewat, tak juga sapa sini sana

Jalan tak disangka sangka

Orang bilang jalan hidup begitu berlinang air mata

Menyempitkan pandangan

Menyesakkan jiwa

Hal baru ditemukan

Kemudian dirapih rapihkannya

Hal lama dilewatkan

Rupanya hati pun kian senang

Namun sayang semua hanya tipu daya dunia

Esok elegi pagi hari

Kasian padi yang berjalan sendiri

Mencari inner light membungkus misery