Karena hati ini lagi rada gimana. Artikel yang bagus

Penyakit hati, adalah suatu hal yang sering kita abaikan, tidak seperti penyakit fisik yang apabila sakit saja sedikit kita merasa khawatir dan membawanya ke dokter untuk diperiksa. Namun penyakit hati sering kita abaikan, seolah-olah penyakit ini tidak berbahaya bagi kita, tidak jarang juga yang malah tidak menyadari apakah hatinya dalam kondisi sakit atau tidak. Padahal […]

via Menjaga Hati, dan Tanda Penyakit Hati — ARTIKEL MARLY 💌

Advertisements

Simbol Cinta

Cinta yang kamu beri sepadan dengan cinta yang kamu dapat. Begitu sekiranya kutipan kalimat John Lennon.

Yogyakarta merupakan sebuah tempat hidangan bagi para pemburu kenangan.
Di persimpangan jalan tentu banyaklah kita bertemu dengan seseorang. Ada yang bercegkerama asiknya. Ada yang berdiri memandang langit. Ada banyak yang tersenyum riang. Semua berhamburan saling pandang cerita cinta.

Continue reading

Pasar Malam Sekaten Resmi Dibuka

Pasar sekaten monggo mampir di Alun Alun utara Kraton Yogyakarta.

GOODBYE SANITY

SONY DSC Awul-awul Sekaten

Sekali lagi dan lagi-lagi dapat voucher Go Car dan sekali lagi harus dimanfaatkan. Biar tidak perlu nambah cari tempat piknik yang tidak jauh dari posisi macul. Kebetulan kemarin, 10 November 2017, Pasar Malam Sekaten resmi dibuka. Meluncurlah ke Alun-alun Utara.

SONY DSC Sepeda Air

SONY DSC Dremolem

“Ke Sekaten lihat apa? Saya bingung kalau ada yang mau ke Sekaten?”

Kurang lebih begitu tanya sopir Go Car kemarin sore saat mengantar aku dan temanku ke Sekaten. Cari apa? Cari awul-awul yang pertama. Setelah beberapa pedagang diputeri, tidak menemukan yang cocok di hati. Pencarian kedua, yang mau dilihat, ya tentu jajanan. Meskipun kemudian memilih gorengan saja, gorengan Sekaten yang berjajar di pinggir jalan sebelum Alun-alun.

SONY DSC Perahu Otok-otok

Melihat lalu lalang orang. Anak kecil dan orang tuanya, teman dan sahabatnya, seorang ekasih dengan pacarnya, atau gebetannya, bagiku pribadi itu sudah cukup menyenangkan. Berada di suatu keramaian, pada saat tertentu, memberi sesuatu “pencerahan” bahwa kita…

View original post 44 more words

My Blood is Football


Glorious family are wondrous.


Pak Kenang (Aris Sujatmoko) nama panggilannya di kampung, he is like a father for me. Dari kemarin aku teringat beliau dan di tengah malam ini aku terbangun seperti merasakan kehadirannya. Well, aku ingin cerita the untold stories, why he is so important in my life. Ketika aku kecil, aku sering diajak kemana mana nonton bola, wayang, sholat di masjid dan banyak macam lagi. Sewaktu aku kelas 5 SD, beliau diam-diam memasukkanku di sekolah sepakbola (SSB) plus bola dan sepatunya reebok. I was very happy for that.

Aku giat berlatih, bola selalu ditempat tidur, mau tidur dan ketika bangun aku selalu juggling bola. Entah kenapa, pelatihku suka mempercayaiku jadi kapten. Disaat terpilih jadi kapten untuk ikut ligina campina U12 di Semarang aku tak bisa ikut karena mau Ebtanas dan Bapakku tak memperbolehkan. Akhirnya aku keluar. Singkatnya dari pengalaman di SSB MAS itu aku beberapa kali ikut turnamen sejak SMP-Kuliah, Alhamdulillah juara 3 kali dengan ban kapten di lengan kiri dan banyak teman dari sini.
Semasa aku SMP intine aku ki mbeling nakal. Sampai mau di masukkan pesantren sama Bapak Ibu kalau libur panjang. Nah, aku selalu minta menginap ditempat Pak Nang ini. Ditempat itu aku belajar mandiri dan kebersahajaan dari sosok beliau.

Idola beliau itu Semar. Tokoh yang arif bijaksana dalam dunia pewayangan. Yang tak dapat sama ditemui di Socrates, Confucius, Tolstoy ataupun Imam Ghazali. Banyak wejangan kudapat dengan sedikit gaya khas “nyeleketenya“. Intinya meski beliau tak mengajarkan aku idghom bilagunnah, tajwid, harakat tapi beliau mengajarkan aku makna iqra’ tentang kehidupan yang setidaknya sesuai ataupun sejajar dengan kearifan lokal.

Akhir kalam
Dun, sportif nak kleru ya ngakoni ke-li-ru.

Selamat hari Wayang 07 November 2017

#semar

KERUPUK TANPA KOPI

Merudung nasib jutaan mahasiswa berkeras untuk cari nafkah. “Susah cari kerja.” Kata sebagian pelamar kerja. Apa iya ini pacuan kuda? Setelahnya muncul gagasan untuk usaha, usaha pun hampir sama semua.

Sebagai contoh kopi.
Dasawarsa ini kopi sangat hangat dipaksakan untuk saling bercerita di pojok-pojok meja romansa berdua atau bersama sama. Sebetulnya kopi dari dulu pun sudah merupakan teman kita. Untuk yang usaha tak apa, yang jenuh adalah kopi selalu di alegorikan tema ruang rindu dan cinta, sering berulang ulang dipakai oleh mahasiswa yang gemar sastra, puisi atau semacamnya dalam 3 tahun ini. Gaya hedonisme namun punya cover puisi sederhana. Sedang kalau kita makan di warung suka lupa ambil kerupuk berapa. Hal sederhana kadang dilupakan. Hal yang “Wah” suka banget diperguncingkan. Materi kuliah ada KKN yang terjun langsung di masyarakat. Tapi sekarang faktanya banyak generasi mahasiswa yang hilang di masyarakat. Lih hidup di social media atau di circle of friends saja. Kemudian tak sedikit yang membanding bandingkan dirinya dengan feed orang yang berlebih dari mereka. Terus berupaya sejadi jadinya biar sama. Ya, stres sui sui. Ada apa dengan mahasiswa. Sudah lupa pamulangan luhur? Ajrih-Asih (takut-hormat karena cinta) kata KHD. Banyak sekarang terjadi kepincangan – kepincangan etos tradisi dalam sebuah epic kependidikan. Kata simbahku “le saiki wes okeh cah enom do pinter pinter lan sugih tapi ora do duwe rasa.” Dan aku kok rasane ketampek ki. Sepertinya orang tua semakin susah payah menafsir apa itu universiteit.
Kerupuk yang tanpa kopi kali ya.

#shadow