Jati Itukah Namamu (part.4)

Berjalan tergopoh – gopoh sambil membawa buku – buku ditepi pinggir terminal di kota mau menuju kampusnya untuk kuliah yang pertama kalinya. Gibran dikagetkan  dengan tabrakan seorang gadis yang berlarian mengejar jam kuliah. Buku – buku  pun berserakkan. Gibran spontan langsung menolong gadis tersebut, namun dia lebih kaget lagi ketika tahu bahwa gadis itu ternyata Rahma. Kedua orang itu saling menatap mata yang dipenuhi rasa rindu. Oh, betapa asyik tak terduganya kita bertemu disini, dik Rahma. Hehehe .

ah, mas Gibran bisa saja, ada apa mas kok sampai ke kota?

Aku masuk kuliah dik. Lho lho baru pertama ini masuk kuliah?

Iya.. lha terus kamu ngapain dik?

Aku juga kuliah mas aku ambil pertanian. Sama. Aku juga dik.

Wah disini aku jadi senior kamu mas.. hehehe, ah tak apalah asal mata ini tak terlepas memandang seniorku yang cantik ini kenapa  harus tak kusyukuri. Hehehe.

Oya, bagaimana kabar kakakmu? Kak Jati baik – baik saja. Oh bukan itu maksudku, syukurlah kalau dia baik – baik saja tapi bagaimana kelanjutannya apa dia berhenti kerja atau gimana? Nanti saja mas sepulang kita kuliah sambil makan siang di kantin. Boleh, oh jadi kita date nih? Kencan.. kencan.. asyik.., Tuhan Maha Asyik. Halah apa – apaan si mas ini.

Begini mas Gibran, perusahaan itu akhirnya ketahuan sama pemerintah setempat kalau ijinnya bermasalah  dan yang punya perusahaan sekarang lagi diproses di pengadilan, terus belum lama ini Mas Jati dengan sebagian tabungannya dia sengaja membelikan pohon untuk mengganti sejumlah yang ditebang di hutan desa kita yang kelak katanya nanti serat pohonnya sangat kuat dan berguna.

Lho kok bisa ketahuan? nah itu mas.. Mas Jatilah yang punya inisiatif melaporkan kalau perusahaan itu melakukan praktek illegal logging dengan segenap keberanian dia. Setelah mas Jati dapat pekerjaan kami pindah ke kota dan dia bekerja sebagai admin di perpustakaan kota dan aku sendiri sambil usaha kecil – kecilan sejak enam bulan yang lalu. Selama itu sangat sulit mas, kehidupan kami. Kami tidak punya pendapatan apa – apa. Mas Jati sibuk mencari – cari pekerjaan kesana kemari, orang tua kami meninggal sedang saya masih kuliah terpaksa mengambil cuti dan mencari tambahan uang untuk  pembayaran kuliah.

Yuk, Ma antarkan aku ke kontrakanmu sekarang aku mau menemui Jati. Baik mas. Tapi, kalau jalan kaki sekitar 20 menit sampai kontrakan? Siap, tak jadi masalah kan bersamamu sahut Gibran. Hehehe. Di sepanjang jalan mereka saling membicarakan tentang banyak hal sampai peradaban masa depan, sesekali tak lupa mereka saling curi pandang. Ini mas Gibran kita sudah sampai ke kontrakan kami. Bentar mas, saya masuk ke kontrakan dulu saya panggilkan mas Jati. Dengan menyalakan rokok ditangan Gibran menunggu Rahma diluar rumah kontrakannya. Hai, apa kabar kawan kecilku!! sudah makin panjang juga rambut kamu, Bran, apalagi brewokan sekarang, pasti susah dikenalin kalau ketemu dijalan. Ah, kau ini bertele – tele Jat, kau pikir aku ini kagak capek apa berdiri disini?! Hahaha Jati tertawa senang. Mari Masuk – masuk kawan. Rahma tertawa senang melihat tingkah kedua orang yang amat dia sayangi bertemu setelah sekian lama tak bertemu.

Jati, aku sudah diceritakan banyak hal oleh adikmu, secara pribadi aku ingin mengatakan aku bangga padamu. Kau ternyata sungguh berani! Aku pun belum tentu berani dan bisa memutuskan melawan seekor Raksasa Perusahaan itu sendirian. Hebatnya, kau lakukan itu, Jat. Tapi, kenapa kau tidak mengabariku setelah itu kalau kau dan adikmu kemudian pindah ke kota?

Bran, kamu tahu semua itu juga karena semangat kamu yang mengingatkan aku tentang pentingnya alam ini untuk dirawat sebagaimana mestinya dan bagiku itu suatu energi yang sangat besar untukku berani memutuskan ini. Justeru aku yang ingin menyampaikan banyak terimakasih kepadamu, Bran. Banyak hal pada saat itu sehingga kami tak sempat mengabari kamu baik tentang soal keadaan maupun kepindahaan kami. Kami tak ingin mengkhawatirkan kamu, kawan. Mumpung kita bertemu, aku ingin membicarakan tentang kamu dan Ratna, Bran. Aku ingin melihat kamu melamarnya selagi aku masih diberi kesempatan hidup dari Allah. Apa?! Kau ini jangan asal ngomong, Jat !! Kau bilang “selagi aku masih diberi kesempatan hidup” maksud kamu apaan?! Sudah kamu lakukan saja permintaanku ini, toh kamu juga suka dengan adikku kan? Iya, tentu saja. Meskipun rasa senang menghinggapi perasaan Gibran saat itu, karena sang kakak dari  pujaan hatinya ternyata merestui cinta mereka kemudian memintanya segera melamar tapi rasa cemas, takut, dan sedih juga menghantam perasaan Gibran. Baiklah Jat, aku segera melamar Ratna.

Setelah mempersiapkan diri Gibran pulang ke kampungnya. Dia berniat membicarakan ke orang tuanya mengenai niatnya untuk melamar adiknya Jati. Setelah  seminggu sepulangnya dari kampung halamannya. Gibran beserta orang tuanya tiba di terminal dekat kampus. Mereka naik becak menuju kontrakannya Jati. Setelah sampai di kontrakan. Terlihat sangat sepi. Gibran keheranan dia kemudian menanyakan ke tetangga keberadaan Jati kebetulan ada tetangga Ibu – ibu separuh baya lagi di depan rumahnya. Dengan sigap Gibran langsung menanyakan keberadaan Jati dan Rahma. Kata tetangga, “ barusan sekitar 5 menit yang lalu mereka tadi kerumahsakit terdekat mereka sangat terburu – buru sepertinya ada yang sakit parah.” APA??!! terimakasih Bu, informasinya.

Gibran langsung berlari dengan sangat cepat sekali seperti kuda yang dibesarkan di pacuan kuda larinya sangat kencang. Dia pun meninggalkan orangtuanya. Sampai di rumahsakit Gibran langsung ke UGD dan disana disambut tangisan dan peluk hangat dari Rahma.

Ada apa Ma?! Ada apa dengan Jati?! Ma… Mass… Jati… Mas Jati Kenapa?!

Dengan tangisan dan air mata yang berat Rahma tak sanggup mengatakan.

Sang Dokter datang mendekat dan mengatakan bahwa Jati sudah tak bisa tertolong lagi karena dia mengindap Kanker yang sudah sangat serius. Dan badannya sudah tidak kuasa menahan sakit. Seketika Gibran tersedak dan meneteskan air mata yang dalam mengingat seorang kawan kecil sekaligus calon Kakak Iparnya telah dipanggil Allah Yang Maha kuasa. Rahma dengan lirih bicara kepada Gibran,

“Mas Gibran, Mas Jati pernah bilang sewaktu dia masih kritis kalau dia sudah tiada dia ingin dimakamkan di dekat pohon yang pernah ditumbangkan dan yang kembali ditanami olenya.” Mereka berdua pun tak kuasa menahan dan semakin kencang isak tangisnya. Prosesi pelamaran setelah pemakaman dan dilaksanakan tepat di antara pohon – pohon kecil yang baru saja ditanami oleh Jati. Seolah Jati berada disekitar menyaksikan adiknya Rahma dan Kawan kecilnya Gibran mengikrarkan janji setia diantara kehidupan pohon yang baru tumbuh. Pohon itu kemudian diberi nama  Gibran dan Rahma dengan nama Pohon Jati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s